Rumah Sakit Tanpa Lift

Oleh : Desi Ayu Lestari

Cahaya yang masuk dari celah pintu terlihat jelas di ruangan gelap. Gadis berkacamata sibuk dengan komputer berwarna putih. Tangannya terus bergerak mengetik papan keybord dengan mata fokus menjurus ke depan. 

"Sampah!" ucap Eyen kesal  menarik papan keybord sampai putus lalu membantingnya. Duarrr.

Pagi yang cerah tapi tidak dengan wajah gadis yang memiliki nama lengkap Eyenno Mello, kuliah di salah satu kampus negeri di kotanya jurusan sastra semester empat.

"Eyenno Mello!" teriak Jordan memekakkan telinga satu ruangan, sehingga pandangan semua orang tertuju padanya.

"Sory-sory," ucapannya terhenti "cupke-cupke," terhenti," bercanda gaes. Sory aku tidak sengaja teriak soalnya Eyen tak menjawab sapaanku dari tadi, dimaafkan ya oke thank you." Canda Jordan yang meminta maaf sambil menaikkan bahu dan kedua alisnya,  tak ada satupun yang menyahut. 

"Lo kenapa sih Yen?" tanya Jordan yang sedari tadi melihat Eyen melamun.

"Huffft, Lo tahukan tugas yang diberi bu Sharon ke gue."

"Mendiskripsikan gedung rumah sakit tanpa lift itukan, apa susahnya?"

"Seenak jidat Lo ngomong, gue dua hari dua malam nyari di internet nggak nemu. Bahkan udah gue bobol beberapa situs juga nggak nemu, kamar berantakan, lampu juga udah dua hari nggak gue hidupin, sangking keselnya gue banting keyboard sampai hancur. Aman. Tangan gue nggak gatel lagi dan akhirnya tidur." Eyen dengan antusias menceritakan pada Jordan dan meletakkan kepalanya di atas meja.

"Sudah jadi rahasi publik kali Yen, rumah sakit itu nggak jadi di buka, arsitek bunuh diri nggak sanggup ganti rugi. Bayangin aja dua puluh lantai tanpa lift? dan pemilik  juga ikut bunuh diri karena depresi, keduanya mati di sana. Lo tinggal karang aja bentuk dalam gedungnya,  lagian juga nggak akan ada yang mengkritik," Jordan mendekat ke telinga Eyen lalu berbisik "karena nggak ada yang pernah masuk kesana setelah insiden bunuh diri itu."

***

Eyen berjalan,  kakinya bergelut dengan semak belukar, kedua tangan memegang tali tas dekat bahu, pandangannya berpendar ke segala sisi. Gedung dua puluh lantai yang menyeramkan, cat tembok mengelupas, debu tebal, dan banyak lukisan sepasang kekasih. Eyen bergidik ngeri, tiba-tiba ada suara serak wanita memanggil namanya "Eeyeeen!" Kakinya kaku  tak sanggup bergerak dari tempat.

"Ma... maaf saya kesini tidak ada niat jahat, saya hanya. Sa... saya hanya penasaran. Ups ma... maksudnya ingin lihat-lihat." Eyen bergumam ketakutan, dalam hati ia mengutuk prinsipnya sendiri. Iya, Eyen berjanji tak akan menipu termasuk dalam hal tugas kuliah.

"Krek krek krek," suara pintu berderit. Eyen melirik tanpa menggerakkan batang lehernya.

"Aaaghhh! Lepaskan kakiku! Lepaskan! Lepaskan! Wanita sialan kau pasti arsitek bodoh itu," maki Eyen kepada hantu itu. Hantu tersebut menatap dengan sorotan mata menyala, rambut panjang sepaha menutupi sebagian wajahnya, menakutkan. Eyen jatuh terduduk ia mencoba bangkit lalu menginjak tangan hantu wanita itu. Eyen berlari sekenjang mungkin, keringat bercucuran membasahi kening.

"Lantai satu, lantai satu, lantai satu. Sial gue baru sampai lantai dua, hantu wanita bangsat itu sudah muncul saja batang hidungnya."  Brak tepat di tangga Eyen menabrak seseorang, lehernya tercekat, matanya terbelalak, dengan tubuh gemetaran Eyen memberanikan mendongak. Bertemu pandang kedua pasang mata yang tegas.

"Ssst jangan takut," ucap pria yang ketampanannya tak kalah oleh aktor Joe Taslim. Ia menyentuh bibir Eyen lembut. Eyen masih gemetaran. Pria itu jalan ke depan satu langkah Eyen mundur satu langkah.

"Siapa kamu? Sungguh aku tak berniat jahat di sini," ujar Eyen yang terus mundur sebab pria itu terus maju.

"Saya pendiri rumah sakit ini," jelas pria itu yang semakin membuat Eyen membelalakkan mata.

"Dia dokter yang bunuh diri!" Batin Eyen dengan napas tersengal-sengal, wajah pucat pasi.

"Maaf dokter saya hanya ingin melihat bentuk dalam gedung yang sudah ditinggal sepuluh tahun ini. Sumpah hanya itu," jelas Eyen tersandung-sandung sebab berjalan mundur. Pria tersebut memegang wajah Eyen. Membuat seluruh tubuh Eyen tersentak berhenti kaku. Ia menghembuskan napasnya ke mata Eyen tepatnya ke kacamata Eyen sampai berembun. Pria itu mendekatkan mulutnya ke telinga Eyen.

"Pulanglah! katakan pada dunia apa yang sebenarnya terjadi di sini," bisiknya.

***

Kamar Eyen masih berantakan, lampu lagi-lagi tak dinyalakan. Dengan tangan gemetar Eyen mulai menarikan jarinya mengetik keyboard.

Deskripsi Gedung Rumah Sakit Tanpa Lift

Gedung seluas satu hektar dengan dua puluh lantai yang dibangun pada tahun 2008 sampai selesai pada tahun 2009. Bangunan yang cukup eksentrik. Jendela-jendela raksasa yang memakai kaca hitam berkilat-kilat menyilaukan mata siapapun yang memandang. Tak hanya itu, desain dalam gedung rumah sakit ini juga unik, jika biasanya rumah sakit dipenuhi lukisan dan gambar organ-organ struktur tubuh manusia atau poster kesehatan tidak halnya di gedung ini. Di dalamnya penuh dengan lukisan sepasang kekasih. Sungguh disayangkan gedung yang begitu besar nan megah tak resmi dibuka. Sebab unit yang seharusnya vital malah terlewat oleh sang arsitek. Cacat tanpa ada lift, bayangkan saja dua puluh lantai orang-orang harus menaiki tangga? Banyak berita miring tentu saja melayang menghampiri kasus ini. Alasan lain dibalik Rumah Sakit ini tidak jadi dibuka adalah arsitek yang bunuh diri di dalamnya sebab tak sanggup ganti rugi. Tak hanya itu, Dokter pemilik rumah sakit ini juga ikut bunuh diri di dalam rumah sakit diduga kuat depresi. Ternyata, tidak seperti itu kejadian aslinya. Saya selaku peneliti gedung ini menemukan bukti bahwa arsitek itu dibunuh oleh keluarga Dokter. Padahal, arsitek telah mengkonfirmasi akan mendesain ulang Rumah Sakit dengan biaya perbaikan ditanggung olehnya. Dokter yang mengetahui kelakuan keji keluarganya langsung mencari jasad arsitek tersebut. Berharap masih ada kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi sayang, ketika Dokter menemukan jasadnya. Jasadnya telah terbujur kaku. Dokter yang tak sanggup melihat jasad pacarnya nekat meminum semua obat-obatan yang dibawa guna menyelamatkan pacarnya itu. Akhirnya mereka berdua mati berdampingan.

"kreeek krek kek," suara pintu berderit perlahan. Eyen melirik penasaran siapa yang membuka pintu kamarnya. Dilihat mata itu, mata yang menyala-nyala, melirik tepat ke arah Eyen. Eyen tak asing lagi terhadap sosok tersebut dengan tubuh yang masih gemetaran menambah ketakutannya. Seakan-akan ia tahu apa yang akan terjadi. Sosok itu dekat semakin mendekat, dengan rambut terseret sosok itu menuju ke arah Eyen.

Eyen tarik napas dalam, kuku panjang, tangan cokelat kurus itu telah memegang kepalanya. Tangan yang satu memegang dagu.

"Aaa!!!" teriak merdu menggema.

Jordan berjalan cukup jauh untuk menuju orang-orang yang berkerumunan di ujung sana. Ia membelah keramaian lalu jongkok dan memegang sebuah papan nisan.
"Bukankah sudah kuperingatkan, dasar sahabat yang keras kepala."

PoV Kedua

"Lepaskan kakiku! Lepaskan! Lepaskan! Hantu sialan, kau pasti wanita bodoh yang ceroboh mendesain rumah sakit ini." Kau terjatuh lalu berusaha bangkit dan menginjak tanganku.

"Hentikan tatapan menyalamu itu hantu jelek." Katamu sambil lari sekencang mungkin dan air keringat membasahi keningmu.

"Lantai satu, lantai satu, lantai satu, sial," katamu masih  sambil berlari-lari menuju tangga. Brak, kau menabrak pacarku.

Jordan sudah mengingatkan, palsukan saja deskripsi bangunan rumah sakit tanpa lift itu. Karena tak pernah ada orang yang masuk ke sana, pasti dosenmu tak akan curiga.

Dua hari dua malam kau tak makan, tak menyalakan lampu, kamarmu berantakan. Demi menuliskan insiden yang sebenarnya terjadi.

Arsitek dibunuh oleh keluarga Dokter. Padahal Arsitek sudah bilang ke Dokter akan ganti rugi. Dokter mendengar bahwa Arsitek itu dibunuh. Dokter marah besar karena Arsitek itu adalah pacarnya. Akhirnya Dokter itu minum racun dan tidur di sebelah pacarnya.

Sekarang apa untungnya kau tahu? Sebenarnya aku ingin membiarkanmu, tapi kau mengata-ngatai aku sial, bodoh, ceroboh, dan yang paling membuatku marah kau bilang aku jelek.

Sekarang kau lihat Jordan sudah berada di depan kuburanmu. Tadi malam amarahku meledak dan mencekikmu. Sekarang kita sama.
Share:

6 komentar :

  1. tulisan dengan melampirkan pov2 atau pov3 sekarang lagi happening ya kak des.

    Di komunitas menulis fiksi sering awak jumpai.
    Tapi awak masih belum ngerti syarat atau hukum baku nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau PoV3 memang rata rata di pakai kak, PoV 1 biasanya penulis pemula yang sering pakai, PoV2 yang rada susah susah gampang. Kalau berhasil buat ya keren kalau ngga berhasil paling pembaca bingung maksud isinya apa😂

      Hapus
  2. Wihh cerita horor yaa.. sbenarnya lbh syuka cerita yg bikin ngakak tp sesekali gpp lah baca yg ada hantu²nya kek gini wkwk

    Mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak sudah mampir di tulisanku. Lain kali aku coba buat cerita humor deh. Hehe

      Hapus
  3. Ehh.. Sebenernya yg bunuh eyen tu si Jordan ya?

    Jordan marah gegara Eyen ngata2in dia bodoh?

    BalasHapus
  4. Wihh hebat bisa buat cerpen gini..

    BalasHapus

Copyright © Personal Blogger . Designed by OddThemes