Saat SMA aku tinggal bersama Ayah dan Abang. Abang lebih tua enam tahun dariku, seorang Abang yang bertanggung jawab, sayang pada adiknya, berbakti kepada orangtua. Abang tak pernah mau pergi merantau. Bahkan sampai sudah menikah dan punya anak Abang masih tinggal di kampung halaman kami.
Masa SMA sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, di rumah, aku sendiri yang perempuan, dapat kasih sayang dari dua orang pria.
Semenjak nenek meninggal Ibu tak pergi merantau lagi. Ibu tinggal di Medan mengurus adik. Sampai pada akhirnya Ayah tiriku ikut tinggal di sana. Entah sejak kapan, aku lupa. Oh iya, untuk yang bertanya kemana kakek. Aku lupa menuliskan, kakek meninggal saat aku menginjak kelas dua SMP.
Sejak menginjak masa SMA, bersekolah, berteman dengan teman baru. Tidak tahu kenapa saat itu aku selalu merasa kesepian, merasa sendiri. Padahal, temanku banyak. Lebih tepatnya banyak yang mendekatiku untuk contekkan. Aku tak percaya mereka mendekatiku karena benar-benar ingin berteman. Lihat saja wajah penjilat mereka, apalagi teman sekelas ditambah teman sekampung. Jelas sudah mendekatiku karena ada inginnya. Andai saja aku bodoh dalam pelajaran kala itu. Mungkin. Aku sudah jadi bahan bullyan yang empuk.
Di belakangku mereka buat geng khusus menggibah diriku. Macam ragam yang diceritakan mereka. Sombong? Datar? Pendiam? Nyeritain Ibuku yang minggat dari rumah, secara tidak langsung isinya menyebut Ibuku sebagai pelacur. Hanya saja mereka pecundang ulung yang besar mulut tapi masih jaim. Aku ikuti kemauan mereka, semenjak itu aku jadi orang yang. Ramah? Penuh ekspresi? Banyak omong? Iya, siapapun yang bicara padaku tapi nyolot aku maki plus dengan ekspresi penuh kebencian. Bahkan kakak kelas yang niatnya bercanda aku maki dengan serius. Kami perang dingin sampai kakak kelas itu lulus. Berbaikan saat aku mengucapkan selamat atas beasiswa yang dia dapat di Sekolah Tinggi Jakarta. Kakak kelas itu terlihat terharu aku mengucapkan selamat. Rasanya aku juga ingin menangis. Apa kami sudah saling menyayangi dalam peperangan tersebut.
Satu lagi, ramah. Aku ramah sama semua guru mencari semua perhatian. Tentu saja mengandalkan otak. Nilai sempurna yang dituliskan tinta merah di atas kertas ujian biologi, sejarah, dan agama. Aku ingat sekali nilai geografiku kurang beberapa angka untuk lulus.
"Siapa yang nilainya tidak lulus angkat tangan!" Dengan suara lembut tapi tegas guru geografi berbicara. Aku menjadi salah satu murid yang nilainya tak lulus jadi angkat tangan. Namun, dengan ekspresi antara kecewa dan tak percaya guru geografi meminta kertas ujianku kembali.
"Ola ngga lulus?" tanya guru sejarah.
"Iya bu," jawabku sambil mengangguk.
"Coba sini ibu lihat kertas ujianmu!" ucap guru sejarah. Tangannya mengulur siap menerima kertas ujianku. Aku berdiri dan memberikan yang ia minta. Kalian tahu apa yang terjadi? Guru sejarah mengoreksinya ulang dan meluluskan nilaiku. Sebegitu hebatnya si ramah. Dia pernah memintaku untuk ngambil jurusan IPS saat naik kelas dua nanti dan aku mengiyakan. Aku sering aktif dalam pelajarannya, sesungguhnya aku juga tak mengerti mengapa jawabanku tak memenuhi standart. Mungkin terlalu sepele. Ah! Tak perlu dipikirkan lagi nilainya sudah diluluskan.
Perlahan aku benar-benar mendapatkan teman. Bukan penjilat dan bukan formalitas. Mereka.
***
Pagi ini aku bangun lebih cepat, karena hanya aku perempuan di rumah ini. Semua pekerjaan rumah kukerjakan sendiri. Mulai dari bersih rumah, cuci piring, cuci baju, dan memasak. Biasanya di pagi hari aku hanya nyapu rumah, masak, dan cuci piring. Selebihnya kukerjakan di sore hari. Aku bangun lebih cepat agar bisa membersihkan kelas dengan aman. Aku piket hari ini.
Aku memakirkan motor, mengunci setang, turun, dan berjalan cepat dengan tas yang super duper berat. Rumput hijau di lapangan sekolah menjadi korban injakkan kaki.
"Braakk!" Aku meletakkan tas kasar. Segera ke ujung kelas mengambil sapu. Aku menyapu, sampai pada bangku yang sudah diduduki seseorang.
"Bisa bangkit sebentar, biar kusapu dulu bangkumu!" ucapku pada seseorang yang sedang menulis itu. Dia masih asik menulis catatannya "Dasar pemalas" batinku. Setelah beberapa lama ia tak juga bergeming.
"Tolong bangkit sebentar, aku mau nyapu!" Akhirnya emosiku meledak, berucap dengan teriak.
"Iya, dasar cewek jelek." Mataku langsung mencari kedua pasang mata miliknya. Dia sudah berniat bangkit namun masih ingin menuliskan satu kalimat. Setelah ia siap menuliskan kalimat tersebut. Akhirnya mata kami bertemu pandang. Dia terlihat sengaja mengatakan kalimat itu. Entah mengapa, dengan perkatannya aku dendam. Sebelum dia banyak yang bilang aku jelek tapi aku biasa saja. Pasti karena dari awal dia ingin mencari pasal denganku. Akhirnya, aku kesulut.
Namanya Reza, berulang tahun di bulan yang sama denganku. Dia orang yang ramah, humoris, pintar juga, dan atlet bulu tangkis. Karena dia orangnya ramah, kami jadi berteman. Bahkan teman dekat. Dari kelas sepuluh, kelas sebelas, kelas dua belas. Menari di kelompok yang sama, jadi pasangan dalam menari. Sampai akhirnya dia suka dan mengutarakan perasaannya padaku. Aku masih ingat sekali bagaimana dia mengatai aku jelek, hahaha.
Bersambung...
Posting Komentar