Cerita itu aku dapat setelah nenek dari ibu meninggal. Kelas satu SMA, hari kamis, saat itu aku masih berada di sekolah. Jam istirahat kedua, aku mengecek pesan masuk "Ola nenek meninggal tadi pagi jam sepuluh" begitu kira-kira pesan yang masuk. Sontak aku kaget dan langsung menulis surat di dalam kelas. Kutitip teman sebangku minta tolong untuk memberikan suratnya pada wali kelas untuk izin dua hari, jum'at dan sabtu. Pulang dari sekolah aku langsung berangkat ke Medan.
Setiba di sana pukul 18.00 WIB jalanan becek, air sungai meninggi tapi tak banjir. Mobil-mobil dan motor terparkir di sisi jalan. Aku berjalan cepat dengan wajah datar, pandangan orang-orang tertuju padaku. Mungkin karena rambutku tergerai panjang sepinggang tak memakai jilbab di suasana duka. Saat itu aku hanya mengenakan celana jeans hitam dan kemeja kotak-kotak berwarna oranye.
Di sana! Sudut mataku menemukan sosok itu. Sudah tertutupi kain jarik batik dan tepat di wajahnya tertutup kain putih. Perasaan sedih tentu saja menghujam tapi kenapa aku tak bisa menangis?
"Ola!" Seseorang memanggil, aku tak asing dengan suara wanita paruh baya itu. Membalikkan badan dan mendapati nenek sebelah memelukku, namanya Nek Pon. Hangat. Air mata akhirnya menetes tapi aku rasa bukan karena kepergian nenek. Pelukan hangat dari Nek Pon yang membuatku haru.
"Yang tabah ya nak," ucapnya lagi, aku memeluknya semakin erat. Nek Pon memang selalu baik padaku bahkan dia tahu persis makanan favoritku. Dulu Nek Pon sering dengan sengaja memasakannya untukku.
Semenjak kepergian nenek aku menyadari ada yang tak beres dengan diriku. Bagaimana bisa aku tak menangis atas kepergiannya. Dia yang sudah mengurusku selama tiga tahun belakangan. Dia juga seorang nenek yang baik. Memang dulu aku sempat menganggapnya pilih kasih. Aku merasa nenek lebih sayang pada kakak sepupu dibanding aku.
Masalahnya sepele saja, soal kerjaan rumah. Aku sudah beresin tempat tidur, cuci piring, dan menyapu rumah. Tiba-tiba kakak sepupu dapat telepon dari uwaknya, aku mendengar isi percakapannya.
"Assalamualikum wak," salam kakak sepupu mengangkat telepon.
"Wa'alaikumussalam, sedang apa kamu?"
"Oh, ini. Baru siap beresin rumah wak," jawab kakak sepupu. Spontan aku melirik tajam. Apa hal? Kelambu kamarnya saja belum dibuka, iler di pipinya saja masih mengering, tai mata masih menggumpal. Bangun tidur! Bisa-bisanya dia berbohong. Kalaupun telepon tidak berdering, aku yakin dia masih molor.
Setelah kakak sepupu mengakhiri teleponnya. Aku marah ke dia, kami bertengkar. Nenek melerai tapi tak berada di tengah, nenek berpihak pada kakak sepupu "Biarlah Ola, ngga mungkin kakak bilang baru bangun tidur, kan malu." Kalimat nenek saat berpihak pada kakak sepupu. Kontras.
Aku merutuk dalam diam, "Terus saja ajari cucumu untuk berbohong" batinku. Mungkin aku juga marah soal kejadian tak beradap pamanku yang tak disadari nenek. Saat itu aku marah, kenapa aku yang disuruh mengantar paman bukan kakak sepupu padahal besoknya aku harus sekolah dan kakak sepupu sudah tidak sekolah.
Hanya menampik yang bisa kulakukan. Mana mungkin gara-gara kemarahan itu yang membuat aku tak menangisinya. Aku sudah memaafkan nenek, dia menyayangiku, aku menyayanginya. Ada apa dengan diriku? Pertanyaan itu akhirnya selalu mengikutiku, mulai saat itu, naik ke kelas dua, tiga, lulus.
Bersambung...
Posting Komentar