Cerbung Chapter 1

Sepotong Masa


Halo! Nama saya Angelina Carola berusia 21 tahun, panggil Ola. Saya bekerja sebagai pembantu "hah! Serius?" teriak penonton. Iya serius saya pembantu ekonomi keluarga, pembantu manajamen hati dalam masa kejomloan yang jadi pilihan. Anak kedua dari tiga bersaudara, memiliki satu kakak lelaki dan satu adik perempuan. Riwayat sekolah di SD Negeri no.106234 Tebing Tinggi; SMP Negeri 38 Medan; SMA Negeri 1 Tebing Tinggi "Kamu kok seperti ulat lompat sana lompat sini sekolahnya?" ejek penonton. Semua lompat-lompatan ini bermula ketika kedua orangtua saya memutuskan berpisah pas sekali saat saya lulus sekolah dasar. Akhirnya, saya diminta ibu untuk ikut dengannya tinggal di Medan.


Sewaktu SD saya termasuk murid teladan, rangking tak pernah keluar dari tiga besar. Tidak istimewa juga sih, soalnya muridnya tak lebih dari 25 orang. Angka pastinya saya lupa dan malas juga bongkar rapor SD.

"Dan nggak penting juga Ola," ucap ketus penonton.

"Memang semua nggak penting bagi kalian guys, saya cuma mau bilang. Apa susahnya kalian menutup mata sejenak," jawab saya ke para penonton yang mulai bosan. Padahal masih awal.


Masa SMP bagi saya adalah masa-masa kelam. Bagaimana tidak, saya tidak diizinkan merasa selayaknya remaja yang sedang pubertas. Tertekan, iya. Jangankan ranking, belajar saja saya enggan. By the way aku tak nyaman pakai kata "saya" beralih ke "aku" ya. Ibu berbohong, aku tak tinggal bersamanya. Neneklah tempat aku dititipkan. Dibingungkan dengan perpisahan mereka, orangtuaku. Di rumah aku tak pernah melihat mereka bertengkar, Ayah tak pernah sekali pun memukulku, tak pernah juga kulihat Ayah memukul orang di rumah. Apa penyebabnya? Aku tak semangat bersekolah. Memang, dari situ aku menjadi mandiri. Segala sesuatu dikerjakan sendiri. Mulai dari mendaftar sekolah, ujian masuk, saat kulihat semua anak didampingi oleh orangtua atau kakaknya atau paman atau bibi atau-atau lainnya. Aku. Sendiri.


Alhamdulillahnya aku lulus masuk SMP tersebut. Waktu bergulir, pada suatu malam paman datang ke rumah "Untuk menyingkat waktu kita tak perlu mendetail ya guys," jelasku.


"Ya iyalah." Sela penonton cepat.


Jadi, paman bekerja sebagai supir tangki bermuatan minyak mentah. Malam itu hari keberangkatannya, ia memintaku mengantarnya ke gudang. Sebenarnya aku malas sekali, namun, atas perintah nenek apa boleh buat.


Malam menunjukkan pukul 19.00 WIB aku hanya memakai kaus lengan pendek warna hitam dan celana pendek berbahan lee sedengkul warna hitam juga. Dingin sekali di atas motor, daripada kedinginan sia-sia aku menikmati pemandangan malam kota Medan. Sampai tak sadar gudang tempat pamanku bekerja sudah terlewat "Kenapa tak berhenti?" batinku. Namun aku tetap diam tak berani bertanya.


Selang tak lama kami berhenti di parkiran salah satu gedung empat lantai. Paman menyuruhku turun "Tempat apa ini?" Lagi-lagi aku hanya membatin, mulutku tak punya keberanian untuk bersuara. Ya, aku hanya gadis kampung yang baru saja pindah ke kota, tak terlalu pandai berkomunikasi. Paman berjalan aku mengikutinya dari belakang. Paman berbincang dengan seorang wanita berpakaian rapi, dulu aku tak tahu itu siapa, sekarang aku tahu, dia seorang resepsionis. Walau dulu aku tak tahu, namun juga tidak sebodoh Dora the Explorer. Seketika aku tersadar tempat ini adalah hotel. Seketika itu juga aku serasa dipaksa lari secepat mungkin, napasku berburu, tarikan dan hembusan berebutan tempat, dapat kurasakan aliran darah menderas. Takut berkabut "Untuk apa aku dibawa ke tempat ini?" Sekali lagi aku hanya berani membatin.


Ya, seperti yang kalian pikirkan. Aku mendapat perlakuan tak senonoh dari paman kandungku sendiri. Usia baru 13 tahun saat itu, trauma tentu saja. Bahkan aku tak berani mengadu ke siapapun, hanya mimpi tempatku mengadu. Setiap malam mimpi buruk itu menghampiri, setiap sendiri walau mata sedang terbuka aku tetap memimpikan mimpi buruk itu. Sendiri. Orang di rumah tak ada satu pun yang curiga ketika paman dan aku kembali ke rumah Bersama. Di atas jam dua belas malam! Mereka tak ada yang memperhatikan mataku sudah bengap lebam mengharu biru sangking banyaknya mengeluarkan air hujan. Tenang saja, dia memang tak berhasil. Tuhan masih sayang padaku, baru sekarang sadarnya. Dulu aku membenci Tuhan. Tuhan, maaf ya. Saat itu aku masih gadis ingusan.


Sekolah tak beres, sering bolos. Di kelas dua SMP absenku banyak sekali, tercatat di sejarah dalam sebulan aku hanya masuk tiga hari. Sampai tinggal kelas. Siapa juga yang mau tinggal kelas, malu tahu! Akhirnya,  aku bisa juga naik ke kelas sembilan sebab dipindahkan ke sekolah swasta. Daritadi ceritanya sedih melulu ya? Yakan judulnya kelam, hahaha. Masa SMP memang tak ada kisah menarik selain sekelibat pengalaman kelam. Soal cinta-cintaan entah bisa disebut beruntung atau tidak. Aku tak pernah menyukai lelaki manapun. Aku pernah jadi musuh sahabat sendiri, penyebabnya tak bisa kuterima. Pacarnya bilang suka padaku di depan banyak orang dan di depannya juga. Haihs! Semenjak itu lagi-lagi aku sendiri. Tak masalah, di kelas tahun ajaran baru kami tak bertemu lagi, sudah tahu alasannya kan ya. Aku pindah sekolah.


Di kelas sembilan aku merasa bahagia dengan sekolah baru dengan kelas baru. Teman-temannya asik sekali, tak ada munafik, tidak suka ya bilang tidak suka, maki ya maki saja. Tapi kalian tahu nggak "Nggak tahu Ola blo'on." Para penonton memutar bola matanya hingga tiga ratus enam puluh derajat. Oh iya ya, karakter mereka asik tapi kelakuan tak beres. Ada yang jadi simpanan om om,  ada yang ajo pulangnya sampai pagi (aku pernah diajak sekali. Sumpah pertama dan terakhir), ada yang kumpul kebo dengan pacarnya. Bayangin masih kelas sembilan. Aku santai saja, mereka benar baik tak pernah menyeretku ke dalam free style mereka. Semangat belajarku juga membara kembali, jadi rangking kelas lagi. Dapat perhatian dari guru menyenangkan juga dan disukai teman sekelas sepertinya asik juga, hehe. Aku masih ingat namanya Arif, ketua kelas, rangking satu di kelas aku yang kedua, dan tampan juga.


"Huuuffft." Aku menarik napas panjang dan dalam. Kalian tahu nggak belum lama kurasakan kesenangan itu musibah menimpa lagi. Untuk kedua kalinya aku jadi bahan percobaan atas nama pelecehan. Kali ini dilakukan oleh paman juga tapi paman ipar. Sudahlah.


Bersambung...

Share:

Posting Komentar

Copyright © Personal Blogger . Designed by OddThemes